Senin, 04 Januari 2021

ABSENSI

KELAS I B DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS IV, V DAN VI

SDN TROPODO 1

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1wFdxMMpRgmjIw2GXBzoepHrh0oDmaA3youxxvEQ8w3M/edit?usp=sharing


Senin, 09 November 2020

RESUME PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD MODUL 10 POTRET PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

 RESUME PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD

MODUL 10

POTRET PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

KB 1. POTRET PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

A.    SARANA PRASARANA DAN KETERJANGKAUAN WILAYAH

Kendala proses belajar mengajar yang selama ini ditemukan adalah kurang memadainya sarana dan prasarana penunjang yang ada. Sarana prasarana pendidikan merupakan salah satu komponen yang menunjang keberhasilan atau ketercapaian tujuan pendidikan. Bagi yang mengajar di daerah geografis terpencil sarana prasarana kurang mendukung sehingga yang materi yang disampaikan adalah kenyataan yang ditemukan setiap hari. Bagi yang mengajar di daerah yang telah dilengkapi dengan sarana prasarana maka akan lebih mudah dan maju.

Yang menjadi sumber terbatasnya sarana dan prasarana bagi suatu sekolah, yaitu:

1.       Letak geografis yang jauh sehingga untuk menjangkaunya diperlukan waktu dan alat transportasi yang memadai,

2.       Kurangnya sinkron informasi antar instansi yang terkait,

3.       Sarana yang ada tidak mampu menampung banyaknya jumlah siswa,

4.       Kurangnya motivasi usia produktif untuk bersekolah karena kombinasi keterbatasan sarana, dukungan keluarga dan keramahan alam.

 

B.    METODE PEMBELAJARAN

Ada beberapa alasan banyak guru belum kompeten yaitu

1.     Guru belum menguasai bahan ketika belajar atau kuliah dan guru mengajarkan yang bukan bidangnya,

2.     Banyak guru yang dalam mengajar hanya menggunakan model yang sama, mereka kurang menguasai berbagai model pembelajaran yang sesuai perkembangan anak didik dan sesuai teori pendidikan yang baru.

C.    KETIDAKMERATAAN JUMLAH GURU

Perbandingan antara guru yang mengajar di daerah terpencil dengan guru yang mengajar di kota sangat jauh. Dari segi kuantitas, jumlah guru sebetulnya telah memadai, tetapi sisi pemerataan dan kualitasnya belum sesuai.

 

 

 

KB 2. PEMBAHARUAN PEMBELAJARAN YANG DITERAPKAN DI SEKOLAH DASAR

A.    PEBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran Konstekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan anatara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan anatar pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Konstektual adalah salah satu strategi pembelajaran yang berhubungan dengan :

1.     Fenomena kehidupan sosial masyarakat, bahasa, lingkungan hidup, harapan dan cita tumbuh.

2.     Fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid.

3.     Kelas sebagai fenomena sosial.

Pembelajaran Konstekstual melibatkan 7  komponen utama pembelajaran efektif yaitu :

1.     Konstruktivisme( constructivism)

2.     Bertanya (questioning)

3.     Menemukan (inquiry)

4.     Masyarakat belajar (learning community)

5.     Pemodelan (modeling)

6.     Penilaian sebenarnya (authentic assessment)

Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkandan menganalisis data, memecahkan masalah tertentu dengan baik secara individu maupun kelompok.

B.    PEMBELAJARAN PAKEM

PAKEM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang didefinisikan sebagai pembelajaran yang partisipatif, aktif,kreatif, efektif, dan menyenangkan. PAKEM berusaha memfasilitasi siswa agar lebih banyak mengalami belajarb bersama dengan berbagai karakter manusia sehingga siswa lebih siap terjun ke masyarakat.

PAKEM dalam perspektif guru adalah, guru aktif memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang, dan mempertanyakan gagasan siswa. Kreatif mengembangkan kegiatan yang beragam, dan membuat alat bantu belajar sederhana.  Efektif, sehingga pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran, dan menyenangkan ,yaitu anak tidak takut salah, tidak takut ditertawakan, dan tidak dianggap sepele.

PAKEM dalam perspektif siswa adalah siswa aktif bertanya, mengemukakan gagasan, kreatif, merancang / membuat sesuatu, dan menulis / mengarang, efektif, menguasai ketrampilan yang diperlukan, dan menyenangkan sehingga siswa berani mencoba / berbuat , berani bertanya, berani mengemukakan pendapat.

Dalam menata ruangan kelas, hendaknya dibuat menarik. Misalnya dengan memajang berbagai hasil karya siswa, berbagai sumber belajar yang dapat membuat suasana kelas menyenangkan, Aktivitas mental siswa merupakan hal yang lebih penting untuk dilatih dari pada aktivitas fisik,  Aktivitas semacam ini muncul jika suasana belajar berlangsung dengan nyaman, sehingga siswa bebas dari rasa takut ditertawakan, diabaikan, atau dimarahi oleh guru.

C.    PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN KOLABORATIF

Model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok yang bersifat heterogen (kemampuan, suku dan budaya, serta jenis kelamin). Model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ini, siswa diajak untuk mencoba menyelami karakteristik kehidupan yang heterogen dengan berbagai macam perbedaan karakter yang ada.

Menurut Nur (http://www.duniaguru.com) semua model pembelajaran, termasuk kooperatif dan kolaboratif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan yang berbeda antara model pembelajaran. Tujuan model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat, dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

Model pembelajaran ini didasarkan pada teori konstruktivisme yang dikembangkan Vygotsky (sosial dan emosional) yang menyimpulkan bahwa siswa mengonstruksi pengetahuan atau menciptakan makna atas dasar pemikiran dan hasil interaksi dalam sustu konteks sosial. Pembelajaran yang dilaksanakan pada dasarnya merupakan aktivitas mengaktifkan, menyentuhkan, mempertautkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses penemuan jawaban pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis, atas dasar keberagaman pemikiran sebagai wujud nyata perbedaan yang ada di antara para siswa.

Perhatikan ilustrasi berikut!

Ilustrasi:

Pak Gun adalah guru kelas 6 di sebuah SD di daerah yang mata pencaharian penduduknya adalah menyadap nira kelapa kemudian diproses menjadi gula jawa. Jumlah siswa kelas 6 yang diajar pak Gun berjumlah 25 siswa. Suatu ketika, dalam mata pelajaran IPS, Pak Gun mengajarkan materi sumber daya alam dan rangkaian kegiatan ekonomi. Aktivitas pembelajaran yang dipilih adalah dengan menugaskan secara kelompok, yang masing-masing terdiri atas 5 siswa, untuk mengidentifikasi siklus perekonomian yang menjadi mata rantai di desa mereka selama satu minggu. Dari 5 kelompok yang terbentuk, Pak Gun memberikan tugas yang berbeda. Kelompok 1-2 diberi tugas mendeskripsikan manfaat industri pengolahan gula jawa dalam menciptakan lapangan pekerjaan masyarakat. Kelompok 3-4 diberi tugas untuk mengevaluasi harga gula jawa di tingkat perorangan, tengkulak, dan harga pasaran. Sementara kelompok 5 diberi tugas untuk melihat risiko yang dihadapi penyadap ketika melakukan aktivitas keseharian di musim hujan. Dalam paparan tiap kelompok, masing-masing kelompok mengajukan argumen masing-masing ada yang pro dan ada yang kontra. Kelompok 3 menganggap bahwa tengkulak menjadi sumber malapetaka yang memainkan harga hula jawa, sedangkan kelompok 4 berpendapat bahwa tengkulak justru membantu memudahkan para warga menjual gula jawa hasil olahannya. Pak Gun memberikan ulasan yang sangat positif bahwa semua hasil pendeskripsian yang mereka sampaikan benar. Pak Gun justru senang dengan adanya perbedaan pendapat antara siswa. Pak Gun kemudian menyimpulkan bahwa terdapat sisi positif dan negatif adanya tengkulak bagi penyadap nira. Selain mendapatkan keuntungan yang kecilkarena sudah dililit sistem ijon, mereka tidak ada piliha lain karena memang itulah mata pencaharian yang layak untuk mereka dengan kondisi desa yang berbukit-bukit, tanah pertanian memang tidak bersahabat.

 

Terdapat lima langkah yang telah dilakukan Pak Gun dalam penerapan model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif:

1.     Pembelajaran berbasis masalah, karena di awal pembelajaran siswa diminta mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu dam siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, yaitu mata rantai kehidupan para penyadap nira kelapa. Dalam hal ini Pak Gun merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.

2.     Pemanfaatan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, karena Pak Gun memberikan penugasan yang dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang dalam konteks kehidupan para penyadap nira kelapa di lingkungan tempat tinggal, yaitu bagaimana para masyarakat dihadapkan pada pilihan pekerjaan menjadi penyadap nira dan permasalahan yang menyertainya.

3.     Pemberian aktivitas kelompok, karena aktivitas belajar yang dilakukan oleh anak secara berkelompok selama satu minggu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Gun dapat memperluas perspektif serta membangun interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Pak Gun membagi siswa menjadi 5 kelompok merupakan strategi yang tepat untuk mengefektifkan hasil yang diharapkan.

4.     Pembuatan aktivitas belajar mandiri, karena Pak Gun secara tidak langsung telah mengarahkan para siswa untuk mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Hal ini sesuai dengan pembelajaran kontekstual yaitu siswa harus mengidentifikasi masalah yang menjadi penugasan, menyediakan waktu yang cukup, menyusun refleksi, serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara manduru bersama kelompoknya (independent learning).

5.     Penerapan penilaian autentik, karena yang dilakukan Pak Gun di akhir pembelajaran sudah membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu sehingga dapat membantu siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.

Hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran yang efektif, yaitu mempersiapkan dalam bentuk analisis masalah di lingkungan sekitar yang disesuaikan dengan silabus, kemudian mengidentifikasi kompetensi yang akan dicapai untuk memilih model pembelajaran yang tepat. Selain itu, guru harus memberikan penghargaan kepada siswa.

RESUME PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD MODUL 9

RESUME PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD

MODUL 9

KB 1. POTRET BAHAN AJAR

A.    BENTUK BAHAN AJAR

1.     Pengertian

Dick, Carey, & Carey (2001: 205) mengemukakan bahwa The instructional materials contain the content – either written, mediated, or facilitated by an instructor – that a student will use to achieve the objectives. Bahan ajar berisi konten – tertulis, melalui media atau difasilitasi guru – yang digunakan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan.

2.     Contoh Bahan ajar

a.      Buku teks / buku ajar

Buku pegangan bagi guru dan siswa, menyediakan garis besar materi yang dapat digunkan guru dalam pembelajaran, berisi ringkasan informasi penting yang harus dipelajari dan merupakan sumber belajar atau referensi bagi semua siswa

b.     Media taktil atau manipulatives

Bahan yang digunakan oleh guru atau siswa dalam mempelajari suatu konsep

c.      Program audio

Bahan ajar yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan mendengar para siswa

d.     Program video

Bahan ajar yang menyajikan demonstrasi atau simulasi dari suatu konsep attau keterampilan yang dipelajari

e.      Handouts

Lembaran lepas yang berisi materi pelajaran yang dibagikan kepada siswa

f.      Lembar kerja siswa

Lembaran panduan yang digunakan siswa baik secara individual maupun kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru

B.    BAHAN AJAR YANG DIGUNAKAN DI SEKOLAH

1.     Komponen buku teks sebagai bahan ajar

Buku teks sebagai bahan ajar hendaknya mengandung komponen-komponen sebagai berikut:

a.      Tujuan pembelajaran

Kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa setelah mepelajari materi yang disajikan dalam suatu bab atau topik atau tema tertentu. Tujuan pembelajaran merupakan penjabaran dari standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dalam kurikulum.

b.     Uraian materi

Sajian materi yang disertai dengan contoh dan ilustrasi yang membantu siswa memahami materi yang disajikan, dan dapat disajikan tugas atau kegiatan yang harus dilakukan siswa untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan  

c.      Evaluasi

Berisi soal-soal yang harus dijawab atau masalah yang harus dipecahkan siswa untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang disajikan

2.     Komponen Lembar Kerja Siswa

a.      Tujuan

Kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa setelah mengerjakan tugas yang diberikan

b.     Materi/sumber

Berisi innformasi tentang bahan-bahan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas

c.      Waktu

Kapan waktu pelaksanaan tugas dan jumlah waktu yang disediakan untuk mengerjakan tugas

d.     Cara kerja

Langkah-langkah yang harus dilakukan siswa dalam mengerjakan tugas

e.      Hasil yangdiharapkan

Mendeskripsikan hasil belajar yang harus ditunjukkan siswa sebagai bukti bahwa mereka telah mengerjakan tugas dan  menguasai tujuan pembelajaran

f.      Tindak lanjut

Memberikan informasi tentang kegiatan yang harus dilakukan siswa setelah menyelesaikan tugas

3.     Kelemahan Bahan Ajar yang digunakan di SD

a.      Salah konsep

b.     Tidak memadainya cakupan materi yang disajikan

c.      Penggunaan ilustrasi yang kurang tepat

d.     Penyajian ilustrasi yang tidak sesuai dengan aturan pengembangan alat evaluasi

e.      Penggunaan Bahasa yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan siswa

KB 2. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DI SEKOLAH DASAR

KTSP dikembangkan oleh masing-masing sekolah dengan memperhatikan karakteristik peserta didik yang dibinanya dan kondisi lingkungan sekolah dengan tetap berorientasi pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang bersifat nasional.

Dengan diberlakukannya KTSP, guru dapat mengembangkan sendiri bahan ajar untuk membantu siswa menguasai kompetensi yang diharapkan.

Menurut Dick, Carey & Carey (2001:254-255) langkah- langkah untuk mengembangkan bahan ajar adalah:

1.   Menelaah strategi pembelajaran yang akan dilakukan untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan.

2.   Melakukan survei berbagai literatur dan ahli bidang ilmu untuk mengetahui bahan ajar yang sudah tersedia.

3.   Mempertimbangkan apakah akan mengadopsi atau mengadaptasi bahan ajar yang tersedia.

4.   Menentukan apakah materi baru akan dirancang.

5.   Menelaah hasil analisis tentang siswa dan masing-masing proses pembelajaran.

6.   Menelaah hasil analisis konteks belajar dan asumsi tentang sumber belajar.

7.   Merancang dan menulis materi bahan ajar berdasar strategi pembelajaran.

8.   Menelaah setiap pertemuan pembelajaran.

9.   Membuat Lembar Kerja Siswa.

10.    Melakukan evaluasi bahan ajar yang dikembangkan

11.    Memperbaiki bahan ajar sesuai dengan hasil evaluasi.

A.    PENULISAN BAHAN AJAR

Suatu bahan ajar hendaknya memiliki komponen-komponen tujuan pembelajaran, uraian materi, dan evaluasi:

Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, maka langkah-langkah yang dapat dilakukan guru untuk menulis bahan ajar adalah:

1.     Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran merupakan penjabaran dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.Tujuan pembelajaran menggambarkan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa setelah mempelajari suatu bab atau topik atau tema tertentu.

2.     Menyajikan Materi Pelajaran

Berdasarkan rumusan tujuan pembelajaran dikembangkan materi pelajaran. Materi berdasarkan tujuan pembelajaran dan sesuai dengan karakteristik dan pengetahuan awal siswa serta sarana prasarana yang tersedia untuk proses pembelajaran (Depdiknas, 2004:23). Sementara menurut Hasan (2007) pemilihan materi pelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

a.      Berkaitan erat dengan kompetensi atas kemampuan yang terkandung pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Standar Kompetensi Lulusan.

b.     Dapat dipelajari peserta didik dan sesuai dengan perkembangan kemampuan mereka

c.      Sumber untuk mempelajari materi tersebut tersedia

d.     Tahan lama dan memiliki manfaat yang bertahan lama.

e.      Memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

f.      Ekonomis dalam arti suatu materi yang dipilih dapat digunakan untuk menguasai lebih dari satu kompetensi .

Selain menyajikan materi penulis hendaknya memberikan ilustrasi-ilustrasi baik berupa gambar, diagram, tabel atau contoh yang sesuai dengan materi dan dapat menambah pemahaman siswa, tidak hanya sekedar menambah kemenarikan tampilan bahan ajar. Penulis juga bisa menuntut siswa melakukan kegiatan melakukan pengamatan, percobaan, mengunjungi nara sumber, dan sebagainya. Penyajian materi harus memperhatikan karakteristik siswa, Penggunaan bahasa sesuai tingkat perkembangan siswa, materi disesuaikan dengan hakekat masing-masing mata pelajaran.

3.     Mengembangkan Evaluasi

Evaluasi dikembangkan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah disajikan. Alat evaluasi dikembangkan berdasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah dijabarkan dalam tujuan pembelajaran.  Alat evaluasi dikembangkan untuk ranah kognitif, afektif, dan psikomotor sesuai kemampauan yang diharapkan dikuasai siswa dan sesuai aturan pengembangan alat evaluasi.

Jika siswa dituntut melakukan kegiatan tertentu maka perlu LKS.  Komponen LKS: tujuan, materi/sumber, waktu, cara kerja, hasil yang diharapkan, dan tindak lanjut.

 

 

 

 

 

 

 

B.    PENGGUNAAN BAHAN AJAR YANG SUDAH TERSEDIA

            Dalam Depdiknas, 2004 Beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam memilih bahan ajar yaitu :

1. Kriteria filosofis, berkenaan dengan pencapaian tujuan pendidikan. Berdasarkan kriteria ini, bahan ajar harus :

a. Menjadi alat dan sarana untuk perkembangan kompetensi siswa; serta

b. Membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang suatu bidang ilmu, bukan sekedar pengetahuan yang superficial saja.

2. Kriteria psiko-pedagogis, berkenaan dengan teori dan asumsi tentang proses terjadinya belajar pada seseorang. Berdasarkan criteria ini, bahan ajar yang dipilih hendaknya :

a. Memungkinkan siswa memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam terhadap bidang ilmu;

b. Merefleksikan keterkaitan dengan latar belakang dan karakteristik awal siswa serta kebutuhan dan minat siswa;

c. Sesuai dengan jenjang intelektual dan kematangan siswa;

d. Dapat mengakomodasikan keterkaitan dengan beragam pengalaman awal siswa;

e. Mendukung pencapaian keterampilan belajar tingkat tinggi (higher order learning) dan kreatifitas siswa;

f. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap dan tata nilai; serta

g. Dapat membekali siswa agar dapat belajar seumur hidup.

         Menurut Dick & Carey, 2001:246-247 mengemukakan 4 kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan ajar yaitu :

1. Kriteria yang berpusat pada tujuan (goal-centered criteria)

          Kriteria ini memusatkan pada isi pembelajaran, berkenaan dengan criteria ini yang harus diperhatikan dalam memilih bahan ajar adalah :

a. Kesesuaian antara isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran serta standar kompetensi dan kompetensi dasar;

b. Kecukupan cakupan dan kelengkapan materi yang disajikan;

c. Kebenaran konsep

d. Ketelitian;

e. Kekinian (sesuai dengan perkembangan bidang ilmu); dan

f. Keobjektifan.


 

2. Kriteria yang berkenaan dengan siswa / kelompok target (learner-centered criteria)

       Kriteria ini berkaitan dengan kesesuaian bahan ajar dengan kelompok target pengguna bahan ajar tersebut. Berkenaan dengan criteria ini yang harus diperhatikan dalam memilih bahan ajar adalah :

a. Tingkat kosakata dan bahasa siswa;

b. Tingkat perkembangan, motivasi,. dan minat siswa; serta

c. Latar belakang dan pengalaman siswa.

Disamping itu, menurut criteria ini bahan ajar yang dipilih hendaknya tidak memiliki bias gender, budaya, usia, ras, dan yang lainnya.

3. Kriteria yang berpusat pada konteks (context- centered criteria)

            Kriteria ini berkaitan dengan kesesuaian bahan ajar yang dipilih dengan konteks pembelajaran. Kriteria ini mencakup :

a. Keotentikan atau keaslian materi; dan

b. Kelayakan bahan ajar dalam hal kondisi bahan ajar dan biaya.

Dalam hal kelayakan, guru perlu memperhatikan kualitas bahan ajar dari aspek penjilidan, tampilan gambar, dan ketikan.

4. Kriteria yang berpusat pada proses belajar (learning-centered criteria)

       Kriteria ini berkaitan dengan ketepatan penyajian isis bahan ajar. Berdasarkan criteria ini, guru harus menilai bahan ajar dari aspek:

a. Kebenaran urutan sajian materi;

b. Pemberian motivasi belajar bagi siswa;

c. Ketersediaan latihan praktek dan kegiatan yang menuntut keaktifan siswa;

d. Ketersediaan balikan yang memadai;

e. Ketersediaan asesmen yang tepat;

f. Ketersediaan kegiatan tindak lanjut untuk meningkatkan ingatan dan transfer;

g. Penggunaan ilustrasi yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran; serta

h. Ketersediaan panduan bagi siswa dalam melakukan satu atau beberapa kegiatan.       Khusus untuk memilih buku kerja siswa, Ornstein (1990) mengemukakan beberapa kriteria yang harus diperhatikan guru. Kriteria tersebut diantaranya :

1. Tujuan (objective)

Beberapa pernyataan yang harus dijawab berkenaan dengan kriteria ini adalah :

a. Apakah buku kerja tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan?

b. Kalau sesuai, buku kerja tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran atau indicator hasil belajar yang mana? Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang mana?

2. Keterbacaan (Readibility)

Pertanyaan yang harus dijawab berkenaan dengan kriteria ini diantaranya adalah :

a. Apakah latihan yang disediakan dalam buku kerja sesuai dengan tingkat membaca siswa?

b. Apakah siswa memahami petunjuk tertulis?

c. Bagaimana penggunaan kata-kata dalam latihan atau pernyataan masalah?

3. Kegunaan (Unility)

Kriteria ini berkenaan dengan manfaat penggunaan buku kerja bagi siswa. Pernyataan yang harus dijawab berkenaan dengan kriteria ini diantaranya adalah:

a. Apakah materi dalam buku kerja membantu siswa menguasai kompetensi yang diharapkan?

b. Apakah latihan, tugas, atau kegiatan yang disediakan dalam buku kerja menarik bagi siswa?

4. Kognisi (cognition)

Kriteria ini berkenaan dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Berdasarkan kriteria ini :

a. Apakah latihan dalam buku kerja mendorong meningkatkan kemampuan berpikir abstrak?

b. Apakah latihan dalam buku kerja menstimulasi kemampuan intelektual siswa?

c. Apakah latihan atau masalah yang disajikan dapat dilakukan oleh siswa, langkah demi langkah?

5. Cakupan materi (content coverage)

Kriteria ini berkaitan dengan cakupan materi yang disajikan dalam buku kerja. Latihan hendaknya mempunyai tingkat kedalaman yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dan memiliki keseimbangan antara cakupan dengan urutan materi latihan.

6. Audio-visual

Kriteria ini berkaitan dengan ilustrasi yang digunakan dalam buku kerja. Hendaknya buku kerja mudah digunakan oleh siswa serta menyediakan ilustrasi yang bervariasi baik berupa bagan, dan gambar yang disajikan.

7. Teori belajar (learning theory)

Berkenaan dengan kriteria ini, latihan dalam buku kerja hendaknya sesuai dengan teori belajar yang berlaku. Pada kriteria ini latihan dalam buku kerja hendaknya memperhatikan perbedaan individual.

8. Karakteristik fisik (physical characteristics)

Berdasarkan kriteria ini buku kerja hendaknya memiliki materi dan kemasan yang berkualitas. Selain itu, harga buku kerja harus kompetitif serta dapat digunakan oleh beberapa siswa.
Diberdayakan oleh Blogger.