Rabu, 15 Juni 2016

Pengertian Syi'ír



Syi’ir
Menurut etimologi kata syi’ir berasal dari bahasa Arab, yaitu sya’ara atau sya’ura, yang artinya mengetahui dan merasakannya. Sedangkan secara terminologi, Ali Badri mengatakan bahwa “syi’ir adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama atau wazan Arab”.[1] Dan menurut Ahmad Asy-Syayib, syi’ír atau puisi Arab adalah ucapan atau tulisan yang memiliki wazan atau bahr (mengikuti prosodi atau ritme gaya lama) dan qafiyah (rima akhir atau kesesuaian akhir baris/satr) serta unsur ekspresi rasa dan imajinasi yang harus dominan disbanding prosa.
 
Dalam kesusastraan Arab, syi’ír adalah satu bentuk puisi yang telah muncul sejak zaman pra-Islam yang kemudian berkembang menjadi satu bentuk puisi yang popular bagi orang Arab. Syi’ir Arab mempunyai persamaan irama pada ujung tiap-tiap baris. Unsur-unsur pokok yang terkandung dalam syi’ir Arab ada lima macam yaitu ; kalimat / bahasa syi’ir, irama / wazan syi’ir, sajak / qafiyah syi’ir, kesengajaan syi’ir, dan khayalan atau Imajinasi. Syi’ir mencatat berbagai hal tentang tata karma, adat istiadat, agama dan peribadatan serta keilmuan dan penampilannya itu dapat mempengaruhi perasaannya, serta keberadaan syi’ir itu merupakan peninggalan dari peradaban yang erat pada kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat.[2]
Puisi lama atau syi’ir biasanya dibagi dan dikategorikan berdasarkan bentuk dan isi dari syi’ir tersebut. Menurut bentuknya, puisi Arab dibagi menjadi empat bagian yaitu ; puisi tradisional, puisi mursal, muwasysyahat, dan puisi bebas (hurr). Dalam literature Arab, puisi tradisional sering disebut dengan puisi klasik (qadim), atau puisi lazim / multazim (biasa/konvensional atau terikat aturan lama).  Puisi tradisional ini terikat prosodi / matra gaya lama atau arud (wazan / bahr) dan qafiyah, yang secara enjambemen (susunan baris) umunya dalam qasidah (dua baris sejajar).[3]
Dalam hal ini arud adalah ilmu yang membahas benar dan tidaknya bahr (wazan) dan perubahannya (varian) yang dipakai dalam suatu syi’ir (puisi Arab konvensional). Sedangkan bahr adalah prosodi atau ritme /matra gaya yang jumlahnya banyak. Yang terkenal di antaranya adalah matra atau bahr basit, tawil, rajz, kamil, madid, khafif, wafer, mutadarik, hazaj, mutaqarib, dan lain-lain.[4] Dan qafiyah adalah kesesuaian akhir baris dalm setiap bait puisi.
Para ahli mendefisikan bahwa penggunaan puisi terbagi menjadi dua, yaitu ; menitik beratkan pada stuktur luar (bentuk) dan ada juga yang menitikberatkan pada struktur dalam (isi). Namun struktur luar puisi harus memperhatikan diksi (pemilihan kata) untuk dapat melahirkan efek estetika bahasa dan makna.Sedangkan yang dimaksud dengan struktur dalam puisi adalah pesan atau makna imajinatif, maka emosional (perasaan), dan makna logisnya.Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab modern, puisi pada umumnya menggunakan kata konotatif dan simbolik.
Banyak perbedaan pendapat yang mengemukakan tentang asal-usul syair Indonesia.Ini dikarenakan kekurangan bahan untuk dijadikan referensi dalam membuktikan asal-usul syair Indonesia. Ada kemiripan pendapat antara Hooykaas dan Marrison, bahwa asal-usul syair Indonesia berasal dari satu tulisan tua, yang terpahat pada batu nisan karya Minye Tujuh di Aceh pada tahun 1380 M. Tulisan dalam batu nisan tersebut menggunakan bahasa sansekerta yang sudah dikenali dalam kesusastraan Jawa. Namun berbeda dengan Teeuw, Winsted, Brakel dan S. M. Naguib, bahwa asal-usul syair Indonesia berasal dari puisi yang dikarang oleh Hamzah Fansuri pada abad ke enam belas Masehi, dan beliau adalah seorang penulis syair yang pertama dalam kesusastraan Indonesia. Melalui tulisan Hamzah Fansuri, unsur-unsur pemikiran dan seni sastra dari Arab dan Persia telah diperkenalkan dalam kesusastraan Indonesia. Dari kesusastraan sufi Arab dan Parsi inilah yang membantu Hamzah Fansuri dalam mengubah puisi ke dalam bahasa Indonesia yang kemudian disebut dengan syair.[5]  Syair dalam kesustraan Indonesia memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1.      Satu bait terdiri dari empat baris
2.      Setiap baris terdiri dari empat kata dan mempunyai 8 sampai 12 suku kata
3.      Memiliki kesamaan huruf di akhir masing – masing bait atau bersajak a-a-a-a.[6]
Syair dalam kesusastraan Indonesia memiliki beberapa jenis diantaranya :
1.         Syair Agama
Syair agama merupakan syair yang mengandung tema ajaran ilmu tasawuf seperti yang telah diciptakan oleh Hamzah Fasuri pada abad ke enam belas.
2.         Syair Romantis
Syair ini berbentuk naratif yang mengisahkan tentang cerita percintaan biasanya syair ini sering dibacakan dengan berlagu sehingga dapat memberi kesan yang menarik kepada pendengarnya.
3.         Syair Sejarah
Syair ini banyak mengandung unsur-unsur cerita sejarah dan berisi tentang peperangan.
4.         Syair Kiasan
Syair kiasan adalah sejenis puisi yang mengandung kiasan bercorak simbolik yang menggunakan perwatakan binatang yang bertujuan sebagai sindiran atau kritikan dalam suatu peristiwa tertentu.


[1] Ali Badri, Muhaadlaraatun Fi ‘Ilmai Al-Aruudl Wal-Qafiyah, (Cairo : Al-Jaami’ah Al-Azhar, 1984), 4.
[2] Ridwan Nur Kholis, Nilai – Nilai Karakter dalam Syi’ir Tanpa Waton ( Studi terhadap teks Syi’ir Tanpa Waton ), Skripsi : 2013, 28.
[3] Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab : Klasik Dan Modern, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada : 2012), 12 - 13
[4]Chatibul Umam, Al-Muyassar Fi ‘ilm al-Arud, (Jakarta, Hikmah Syahid : 1990), 4
[5]IKAPI, Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, (Jakarta,Pustaka Al-Husna : 1989), 150
[6] IKAPI, Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, 148

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.