Rabu, 28 Mei 2014

Aliran Ahmadiyah

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Aliran  Ahmadiyah adalah sebuah gerakan keagamaan yang dilahirkan  oleh Mirza Ghulam Ahmad di India pada tahun 1889. Lahirnya aliran Ahmadiyah ini adalah serangkaian dari peristiwa sejarah islam, yang mana munculnya aliran ini tidak terlepas kondisi umat islam pada masa itu. Dan setelah  Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada tanggal 1914, setelah meninggalnya Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah terbagi menjadi dua aliran yaitu jemaah Ahmadiyah Qadiyan dan  jamaah Ahmadiyah Lahore.
Mirza Ghulam mengaku bahwa dirinya adalah Nabi yang di pilih oleh Tuhan dan mengklaim bahwa dirinya adalah seorang   mujaddid Islam.Mirza Ghulam juga mengaku bahwa dirinya adalah isa dan mengakui sendiri bahwa drinya adalah Nabi yang terbaik dari semua Nabi yang pernah ada.Dari latar belakang di atas dapat kami rumuskan beberapa masalah sebagai berikut.
B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana sejarah berdirinya Ahmadiyah.
2.    Apakah yang dimaksud jamaah Ahmadiyah Qadiyan?
3.    Apakah yang dimaksud jamaah Ahmadiyah Lahore?
C.  Tujuan Masalah
Dari beberapa rumusan masalah diatas bertujuan untuk menjelaskan sejarah berdirinya Ahmadiyah dan bagian dari Ahmadiyah yaitu jamaah Qadiyan dan jamah Lahore serta menjelaskan maksud dari ke dua jamaah tersebut.
BAB II
AHMADIYAH
1.    Latar Belakang Berdirinya Ahmadiyah
Ahmadiyyah adalah sebuah gerakan keagamaan islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmadpada tahun 1835-1908 M / 1256-1326 H. Beliau dilahirkan di Desa Qadian, Jumat, 13 Pebruari 1835 M atau 14 syawal 1250 H di rumah ayah beliau Mirza Ghulam Murtadha pada waktu shubuh. Qadian terletak 57 km sebelah timur kota Lahore dan 24 km dari kota Amritsar di Propinsi Punjab, India.
Lahirnya aliran Ahmadiyah merupakan serangkaian peristiwa sejarah dalam islam, yang munculnya tidak terlepas dari situasi dan kondisi umat islam pada saat itu.Jamaah ini pada mulanya terdiri dari orang-orang yang dapat menerima pengakuan Mirza Ghulam Ahmad, bahwa ia adalah Imam Mahdi Al-Masih yang dijanjikan Tuhan, serta seorang rasul Tuhan yang bertugas untuk menegakkan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.[1]
AliranAhmadiyah telah tersebar lebih dari 185 negara didunia. Memilliki cabang di 174 negara yang tersebar di afrika, amerika, amerika selatan, asia, Australia, dan eropa. Saat ini, jumlah keanggotaannya disluruh dunia diperkirakan lebih dari 150 juta orang. Menurut harian republika (13/6/2008), sampai thun 2001 yang telah berbaiat menjadi anggota jamaat ini  berjumlah 80 juta orang.
Setelah meninggalnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai pemimpin aliran Ahmadiyah.Munculah pendapat-pendapat yang kontroversial dari dalam Ahmadiyah sendiri.Sehingga menimbulkan perdebatan yang saling bertolak belakang dan mengakibatkan Ahmadiyah terbagi menjadi dua sekte, yaitu Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore.Ini disebabkan karena Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, sebagai pemimpin aliran Ahmadiyah, setelah Ayahnya meninggal dunia.Berpendapat bahwa :
1.    Masih Mau’ud itu betul-betul Nabi,
2.    Beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur’an Suci (QS.61:6)
3.    Semua orang Islam yang tidak berbai’at kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama beliau, hukumnya kafir dan keluar dari Islam.(Ainai Sadaqat, hal 35)[2]
Dari ketiga pendapat tersebut, yang mendasari terjadinya perpecahan dalam Ahmadiyah.Sebagian dari anggota mereka yang setuju terhadap pendapat tersebut, disebut sebagai Ahmadiyah Qadiyan, karena pusatnnya di Qadiyan, India.Aliran ini menyebar ke segala penjuru Negara dengan menyebut dirinya sebagai Jemaat Ahmadiyah.Sedangkan sebagian dari mereka, yang tidak setuju telah memisahkan diri dari Ahmadiyah yang sebelumnya.Ahmadiyah ini disebut sebagaiAhmadiyah Anjumaan Isya’ati Islam (Ahmadiyah, Gerakan Penyiaran Islam) dan berpusat di Lahore.
2.    Ahmadiyah Qadiyan
Ahmadiyah Qadiyan adalah kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi dan beliaulah yang diramalkan dalam Al-Qur’an dalam surat Ash-Shaf ayat 6.
øøŒÎ)ur tA$s% Ó|¤ŠÏã ßûøó$# zNtƒótB ûÓÍ_t6»tƒ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ÎoTÎ) ãAqßu «!$# /ä3øs9Î) $]%Ïd|ÁB $yJÏj9 tû÷üt/ £ytƒ z`ÏB Ïp1uöq­G9$# #MŽÅe³t6ãBur 5AqßtÎ/ ÎAù'tƒ .`ÏB Ï÷èt/ ÿ¼çmèÿôœ$# ßuH÷qr& ( $¬Hs>sù Nèduä!%y` ÏM»oYÉit6ø9$$Î/ (#qä9$s% #x»yd ֍ósÅ ×ûüÎ7B ÇÏÈ  
“ dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."[3]
Aliran Ahmadiyah ini berpusat di Qadiyan dan  dipimpin oleh Mirza Basyirudin Amhmud Ahmad putra dari Ghulam Ahmad. Ajaran dari Ahmadiyah Qadiyan adalah tentang aqidah dengan menggunakan argument-argumen yang diambil dari nash (Qur’an da Hadits) serta argument-argumen lain yang dianggapnya rasional. Ahmadiyah Qadiyan ini merupakan tindak lanjut dan pembelaan Mirza Ghulam Ahmad dari ajaran sebelumnya.
A.  Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah Qadian
Ajaran Ahmadiyah Qadiyan adalah sebagai berikut:
1.    Mengimani dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki kelahiran India yang mengaku menjadi nabi, adalah nabinya.
2.    Mengimani dan meyakini bahwa "Tadzkirah" yang merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad adalah kitab sucinya. Mereka menganggap bahwa wahyu adalah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
3.    Mengimani dan meyakini bahwa kitab "Tadzkirah" derajatnya sama dengan Alquran.
4.    Mengimani dan meyakini bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian terus berlanjut sampai hari kiamat.
5.    Mengimani dan meyakini bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci sebagaimana Mekah dan Madinah.
6.    Mengimani dan menyakini bahwa surga berada di Qadian dan Rabwah. Mereka menganggap bahwa keduanya sebagai tempat turunnya wahyu.
7.    Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki di luar Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.
8.    Haram hukumnya salat bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah.
9.    Ahmadiyah mempunyai tanggal, bulan, dan Tahun sendiri, yaitu nama bulan: 1.Suluh 2.Tabligh 3.Aman 4. Syahadah 5.hijrah 6. Ikhsan 7. Wafa 8. Zuhur 9.Tabuk 10.Ikha 11.Nubuwah 12.fatah. sedang nama tahun mereka adalah Hijri Syamsi (disingkat HS).[4]
B.     Kenabian
Secara umum definisi nabi dan rasul adalah seorang laki – laki balig, berbudi pekerti baik dan kepadanya diturunkan wahyu syariat. Apabila seorang laki-laki tersebut diperintahkan menyampaikan apa yang diwahyukan kepada umat, maka ia didefinisikan sebagai rasul. Sebaliknya,jika dia tidak diperintahkan menyampaikan apa yamg diterimanya sebagai wahyu maka dia didefinisikan sebagai nabi.Dapat diketahui bahwa setiap rasul secara otomatis berpangkat sebagai nabi, tetapi tidak setiap nabi berarti rasul.
Namun dalam presfektif Ahmadiyah, mendefinisikan nabi dengan laki-laki baligh, berakal, berbudi pekerti baik, dan diturunkan kepadanya wahyu.Jika wahyunya mengandung hukum-hukum baru yang belum terdapat dalam syariat sebelumnya,maka dia dinamakan sebagai nabi yang membawa syariat sebelumnya.Sementara jika mereka tidak membawa syari’at baru, maka dia dinamakan nabi pembantu. Fungsi dari nabi pembantu itu adalah menguatkan dan menjelaskan apa yang terdapat dalam syariat yang dibawa oleh nabi sebelumnya.
Dalam teori emanasi kenabiannya, Ahmadiyah Qadian mempercayai bahwa pintu kenabian masih terbuka. Menurut Ahmadiyah, Nabi Muhammad adalah pembawa syari’at yang datang sebagai manifestasi dalam deretan kenabian syari’at islam.[5] Sesudah Nabi Muhammadakan datang nabi-nabi yang berfungsi melanjutkan dan memperbaharui syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Menurutnya, kenabian itu berlangsung terus menerus hingga hari kiamat.Nabi Muhammad SAW merupakan nabi penutup yang membawa syari’at.Dengan demikian tetap terbuka diutusnya nabi yang tidak membawa syari’at setelah Nabi Muhammad, Allahtetap mengangkat nabi Muhammad sebagai nabi, tapi Allah tetap mengangkat nabi-nabi selanjutnya untuk memperbarui syari’at.
C.    Khattam An Nabiyyin
Ahmadiyah Qadian mengemukakan tentang adanya seorang nabi terus menerus sesudah Nabi Muhammad SAW, didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 40, adalah sebagai berikut :
$¨B tb%x. î£JptèC !$t/r& 7tnr& `ÏiB öNä3Ï9%y`Íh `Å3»s9ur tAqߧ «!$# zOs?$yzur z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# 3 tb%x.ur ª!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« $VJŠÎ=tã ÇÍÉÈ 
 Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[6], tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[7]
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an diatas, diterangkan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup dari Rasul dan Nabi. Maka setelah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi Nabi. Namun yang diperdebatkan dalam tafsir Ahmadiyah adalah Khatam yang berasal dari kata khatama yang memiliki beberapa arti, diantaranya : mematerai, menstempel, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu.[8]Maka Ahmadiyah Qadiyan menyimpulkan kata khattam an-nabiyyin memiliki arti para nabi yang terbaik dan paling sempurna diantara nabi-nabi.[9]Merekajuga mempercayai bahwa nabi Muhammad SAW adalah “Khatam nabiyyin” dalam pengertian bahwa nabi Muhammad SAW yang terakhir membawa syari’at. Tetapi nabi yang lain akan datang melanjutkan syariatnya, sehingga pintu kenabian akan selalu terbuka.
D.    Konsep Wahyu
Menurut Ahmadiyah Qadian, pintu wahyu belum tertutup. Karena pengertian wahyu baginya adalah lafadz Allah SWT yang disampaikan kepada para penerimanya.Menurutnya, wahyu adalah manifestasi sifat Rahman dan Rahim dari Allah SWT.Dengan demikian, sifat Allah masih sama seperti dari zaman azaly. Apabila dulu Allah menurunkan wahyu dan berbicara kepada hamban-Nya, maka sekarang pun juga demikian.Allah menurunkan wahyukepada orang-orang yang terpilih, dan wahyu adalah kebutuhan umat manusia sebagai sumber yang pasti, untuk memperbaiki keadaan di muka bumi.[10]
E.     Imam Mahdi dan Al Masih
Pemahaman ahmadiyah terhadap permasalahan imam al-mahdi dan masih mau’ud merupakan salah satu doktrin teologis yang menjadi ciri khas sekaligus perbedaan dengan mayoritas umat pada umumnya.Menurut pandangan ahmadiyah bahwa tokoh Al-mahdi dengan Al-masih merupakan satu kepribadian atau satu tokoh , kedatangan dan kehadirannya telah dijanjikan oleh Allah swt, sehingga doktrin tentang Al-mahdi tidak dapat dipisahkan dari kedatangan nabi Isa A.s diakhir zaman.Hal ini berbeda dengan pemahaman yang selama ini di pegang oleh kaum sunni yang menyatakan bahwa Al-mahdi dan Al-masih adalah dua factor dari pribadi yang berbeda.
Keyakinan Ahmadiyah akan datangnya al-masih yang juga merupakan al-mahdi didasarkan pada hadits diatas,menurut Ahmadiyah hadits tersebut mengandung pengertian bahwa jika al-masih yang dijanjikan itu datang,maka tidak ada al- mahdi yang lain, tetapi almasih yang dimaksud sekaligus berpangkat Al-Mahdi.[11]
Menurut ahmadiyah, memahami hadits-haditrs tentang turunnya al-masih dan al-mahdi harus secara qias,jangan difahami secara harfiah, argumentasi yang dijadikan pegangan mereka yaitu,Pertama,sabda rasulullah saw diatas secara lahiriyah ditujukan kepada para sahabatnya, akan tetapi secara haqiqat ia ditujukan kepada umat islam akhir zaman. Kedua, Nabi Isa A.s sama sekali tidak dapat dikategorikan kedalam kata antum ( Umat nabi Muhammad saw )karena beberapa hal. Antara lain, Nabi Isa A.s bukan umat nabi Muhammad saw , nabi Isa a.s adalah pimpinan Bani israil, nabi Isa a.s sudah wafat dan orang yang sudah wafat tidak akan dibangkitkan lagi sebelum hari kiamat dating.
Argumentasi lain yang dikemukakan aliran Lahore adalah bahwa kalau yang akan dibangkitkan lagi adalah nabi Isa a.s sebagaimana yang diutus bani israil,maka hal iti akan membuka dan mencederai segel penutup kenabian. Hal ini akan merusak aqidah umat islam yang meyaqini bahwa nabi Muhammad saw adalah penutup para nabi. Sementara apabila kedatangan Al-masih tersebut bukanlah nabi berarti akan menjatuhkan derajat kenabian nabi Isa a.s kedalam manusia biasa.
Tugas masih Al-mau’ud dan imam Al-mahdi menurut ahmadiyah adalah membunuh Dajjal , mematahkan argumen-argumen agama nasrani dengan dalil-dalil Al-Qur’an yang autentik, menunjukan kebenaran agama islam kepada umat manusia, membunuh babi, dan menegakkan syari’at nabi Muhammad saw, kepada umatnya yang mengalami degradasi iman dan moral. Ahmadiyah meyaqini bahwa al-masih dan al-mahdi yang dimaksud adalah ghulam ahmad dari qadian .pengakuan ini kemudian dideklarasikan pada tahun 1891 M. Dasar pengakuannya adalah bahwa wahyu yang diterima ghulam ahmad dalam bahasa urdu  yang diterima tahun 1890 M,wahyu yang diturunkan Allah swt kepada ghulam ahmad yang berkaitan dengan pendakwaan dirinya sebagai Al-masih dan Al-mahdi, bahkan menjadi suatu keyaqinan bagi kalangan ahmadiyah.
3.      Ahmadiyah Lahore
Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam. Sebab nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Sesudah beliau tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. Barang siapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah muslim, bukan kafir, meskipun tidak berbai’at kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.[12] Gerakan ahmadiyah menurut kelompok ini  dipegangoleh pedoman besar (Shadr Anjuman Ahmadiyah) dan kekuasaan tertinggi terletak oleh kongres.
Kepercayaan Ahmadiyah Lahore adalah sebagai berikut :
1.    Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.
2.    Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akandatang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.
3.    Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.
4.    Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.
5.    Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.
6.    Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.
7.    Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddidakan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.
8.    Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.
9.    Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.
10.     Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.[13]


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari pembahasaan di atas dapat kami simpulkan bahwa aliran Ahmadiyah adalah sebuah gerakan keagamaan yang di pimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad, gerakan ini di pandang sesat karena Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa dirinya adalah seorang Imam Mahdi yang telah dijanjikan oleh Tuhan dan mengaku bahwa drinya adalah Rasul utusan Tuhan untuk menegakkan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Setelah meninggalnya Mirza Ghulam Ahmad, aliran Ahmadiyah ini terjadi kontroversi yang mengakibatkan aliran Ahmadiyah terpecah menjadi dua yaiti jamaah Ahmadiyah Qadiyan dan jamaah Ahmadiyah Lahore. Jamaah Qadiyan adalah kelompok gerakan yang mengakui bahwa Mirza Ghulam adalah seorang Nabi, sedangkan jamaah Lahore mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukanlah seorang Nabi, karena gerakan ini percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terahir dan mengatakan Mirza Ghulam adalah seorang Mujaddid atau pembaharu.


DAFTAR PUSTAKA
Mahsum,  Pemikiran Teologi Islam Modern,Yogyakarta: Interpena,  2011.
Jaiz, Harto Ahmad , Aliran dan Paham sesat di Indonesia, Jakarta. Pustaka Al-kautsar,2002.
Hanafi, Muchlis M, menggugat Ahmadiyah, Tangerang: Lentera Hati, 2011.
Fathoni, Muslih,Faham Mahdi Syi’ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1994.
Mahally, Abdhul Halim.LLB (Hons) MA, Benarkah Ahmadiyah Sesat,  PT.Cahaya Kirana Rajasa. Cet.  ke-2, januari, 2006 .
Yayasan Penerjemah Al-Qur’an, Al – Quran dan Terjemahannya. Surabaya : Mahkota Surabaya, 1989.


[1] Ma’shum, Pemikiran Teologi Islam Modern,  (Yogyakarta : Interpena, 2011), 81
[2] Ibid, 101
[3] Al-Qur’an Surat Ash Shaf Ayat 6
[4]H. Harto Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham sesat di Indonesia, (Jakarta. Pustaka Al-kautsar, 2002), 57
[5]Muchlis M. Hanafi,menggugat Ahmadiyah,(Tangerang: Lentera Hati, 2011),21
[6]Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.
[7]AL-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 40
[8]Muchlis M. Hanafi, Menggugat Ahmadiyah, (Tangerang: Lentera Hati, 2011),20
[9]Muslih Fathoni,Faham Mahdi Syi’ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1994), 77
[10] Ma’shum, Pemikiran Teologi Islam Modern (Yogyakarta : Interpena, 2011), 88
[11]Abdhul Halim Mahally.LLB (Hons) MA, Benarkah Ahmadiyah Sesat, ( PT.Cahaya Kirana Rajasa.cet.ke-2januari,  2006 ), 119
[12] Muchlis M. Hanafi,menggugat Ahmadiyah, (Tangerang: Lentera Hati, 2011),2
[13] Ma’shum, Pemikiran Teologi Islam Modern (Yogyakarta : Interpena, 2011), 101

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.