Jumat, 23 Mei 2014

Biografi dan Nasihat Empat Imam Madzab


-->
Pengetian Madzab
Madzab berasal dari kata kerja (dzahaba) yang artinya pergi. Sedangkan (madzhab) adalah kata keterangan tempat yang berarti jalan. Adapun madzab menurut istilah ialah jalan pikiran (paham/pendapat) yang ditempuh oleh seorang imam mujtahid di dalam menentukan suatu hukum  islam dari Al – Qur’an dan Al – Hadist. Di dalam agama islam, sesuatu yang tidak diperselisihkan tidak menimbulkan madzab seperti :
a.       Rukun islam itu lima
b.      Sholat lima waktu itu wajib
c.       Zina itu hukumnya haram dsb.
Hal yang seperti itu namanya mujma’alaih atau sudah di jima’i atau disepakati, oleh kalangan ulama’. Disini tidak ada madzab, karena hal tersebut sudah diterangkan dalam Al – Qur’an dan sudah ketentuan dari sang Ilahi. Hanya saja  terjadinya perbedaan  madzab itu terletak pada fiqih. Hal yang seperti ini memanglah wajar, karena setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda pada jaman sahabat. Bila sesuatu hal dalilnya jelas, maka terjadilah ijma’ (persamaan pendapat). Bila dalilnya kurang jelas, terkadang terjadi ikhtilaf ( perbedaan pendapat), lalu timbul madzab – madzab. Baik berijma’ maupun berikhtilaf adalah dibenarkan oleh Rosulullah, asalkan yang berijma’ / berikhtilaf itu ulama bukan orang bodoh.
a.      Munculnya Madzab
Setiap penilaian orang itu berbeda, terjadinya perbedaan juga dapat kita lihat bahwa orang melihat atau meniru tingkah laku atau kegiatan Rosulullah SAW itu dari berbagai sudut.  Contoh saja yang terjadi pada sholat shubuh yanng memakai qunut dan tidak. Bahwa membaca qunut itu disunahkan pada saat sholat shubuh. Salah satu dari mereka melihat Rosulullah ada yang dari kanan, ada yang dari kiri, ada pula yang dari depan dan juga dari belakang. Semuanya itu benar, kembali lagi kepada kita disisi mana kita akan meniru Rosulullah. Adapun dalil – dalil yang membenarkan hal tersebut diantaranya :
Sabda Rosulullah SAW :
 “ Sesungguhnya Allah SWT tidak membuat ijma’ umatku (ulama’ku) di atas kesesatan.”
 “Perbedaan pendapat umatku (ulama’ku) itu adalah rahmat”.
Perbedaan pendapat ini terjadi saat Rosulullah meninggal dunia. Disinilah terjadinya pemahaman yang berbeda dari setiap umatnya. Ketika Rosulullah masih hidup, setiap perkara atau masalah tentag hukum mereka langsung menemuinya dan betanya kepadanya untuk membantu menyelesaikan. Rosulullah pun menerangkan  kepada mereka dengan ucapan maupun perbuatan, yang mana setiap perkataannya sesuai dengan wahyu Allah SWT. Karena pada saat itu Rosululloh sudah meninggal, dan yang terjadi setelah itu adalah bingungnya umat manusia termasuk sahabat dalam menentukan suatu  hukum fiqih. Maka terjadilah ijtihad para sahabat, Islam sangat mendorong pemeluknya untuk berijtihad dalam rangka memahami hukum – hukum syara dari dalil – dalil syara. Rosulullah bersabda dalam sebuah hadits shohih :
Apabila seorang hakim berijtihad dan ternyata benar maka ia akan memperoleh dua pahala. Namun bila salah maka ia mendapat satu pahala.
Setelah daulah islamiyah meluas dan bangsa arab mulai berinteraksi dengan bangsa dan umat lainya, maka pemahaman umat islam terhadap bahasa arab mulai melemah. Akibatnya, tidak semua umat islam mampu melakukan ijtihad, melainkan sebatas pada para ulama yang mampu untuk berijtihad saja. Hingga akhirnya orang – orang selain mujtahid tersebut hanya menjadi muqallid ( pengikut ) dari mujtahid.Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam memahami hukum islam. Dari perbedaan pemahaman terhadap sebagian nash – nash syara yang mengandung lebih dari satu makna ini, mengakibatkan para mujtahid berbeda dalam meng-istinbathkan sebagian hukum syara yang bersifat praktis. Dalam hal ini jumlah mujtahid juga lebih dari satu, bahkan ada ribuan orang. Tapi disini hanya ada beberapa imam yang memiliki pengikut ribuan orang, sehingga yang dikenal dalam kehidupan kita selama ini adalah :
1.      Imam Abu Hanifah Annu’man
2.      Imam Malik bin Anas
3.      Imam Muhammad Idris Asy – Syafi’i
4.      Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal
Dari keempat imam ini mereka telah berijtihad dalam berbagai masalah yang tidak diijtihadkan oleh guru mereka. Hasil ijtihad mereka dibukukan dalam sebuah kitab dalam bentuk yang tekategorisasi dan tersistematisasi secara rapi. Kemudian yang dinamakan madzab adalah kumpulan dari pendapat dan hasil ijtihad. Madzab sendiri adalah suatu metode yang menjadi dasar bagi para imam untuk mengistinbathkan hukum – hukum syara. Inilah yang selama ini dikenal ushul fiqh.
Perlu kita ketahui bahwa ilmu fiqih yang diajarkan para sahabat dan para imam tidak beku dengan berpegangan kepada lafadz – lafadz nas. Tetapi juga mengambil atau berdasarkan ilmu pengetahuan tentang hukum untuk menimbang sebab (illat) sewaktu hendak memberi fatwa – fatwa. Sebagaimana yang telah kita ketahui pendapat para imam bermacam – macam, ini disebabkan berlainan tempat dan juga keadaan negeri masing – masing di samping mempunyai kekurangan dan kelebihan pula tentang memahami maksud Al – Qur’an dan Hadist. Al – Qur’an dan Hadist Rosulullah adalah sebagai sumber hukum dalam ilmu fiqih islam yang mana permulaannya berawal dari zaman Rosulullah SAW. Sumber – sumber ini bertambah mengikuti perkembangan zaman dan luaslah bidang ilmu fiqih.
Pokok atau sumber – sumber hukum ini berkembang dalam bidang ilmu fiqih islam. Dalam menentukan hukum ilmu fiqih itu para imam telah berijma’ dan mempunyai pemahaman yang berbeda. Namun suatu perkara yang berbeda pemahaman dalam menyelesaikannya merupakan suatu perbendaharaan yang besar untuk membuka pintu – pintu dalam bidang ilmu fiqih. Ini dapat menambah perbendaharaan, kekuatan dan penyesuaian. Namun, sebagian dari pengikut mereka ada yang mau menerima dan sebagian ada yang menolaknya serta ada pula yang ragu – ragu menerima hukum fiqih yang telah menjadi kesepakatan para ulama.
2.2 Madzab Imam Abu Hanifah Annu’man
            Abu Hanifah lahir pada tahun 80 hijriyah bersamaan (699 M) di kota Kuffah dari keturunan bangsa Persia. Pada saat itu, pemerintahan islam sedang berada di bawah kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, yaitu raja (khalifah) ke – 5 dari dinasti Bani Umawiyyah dan Abbasiyyah dan beliau meninggal dunia pada masa khalifah Abu Ja’far Al - Mansur.4.1 Menurut riwayat ayahnya bernama Tsabit,  beliau seorang pedagang yang satu keturunan dengan bapak saudara Rosulullah. Mana kala neneknya Zuta adalah hamba kepada suku (Bani) Tamim. Ibu Abu Hanifah tidak terkenal di kalangan ahli – ahli sejarah tetapi bagaimanapun juga ia menghormati dan sangat taat.
            Abu Hanifah hidup sebagai seorang pelajar, pedagang dan syeikh (guru). Sebelum menghadap diri secara khusus kepada ilmu, Beliau berdagang kain sutra di pasar Kufah. Akan tetapi, di samping beliau berniaga, tekun pula menghafal Al – Qur’an Al – Karim dan sangat gemar membacanya. Beliau seorang yang amanah dan pernah mewakili perdagangan pada masa itu, ia berhasil meraih ilmu pengetahuan dan perdagangan sekaligus. Kota Kufah ini terkenal sebagai kota yang dapat menerima perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia seorang yang bijak dan gemar ilmu pengetahuan. Beliau mulai menambah ilmu pengetahuannya berawal dari belajar satra bahasa Arab. Karena ilmu bahasa, tidak banyak menggunakan akal (pikiran) ia meninggalkan pelajaran ini dan beralih belajar ilmu  fiqih. Beliau sangat antusias dengan ilmu yang banyak menggunakan pikiran. Disamping belajar ilmu fiqih, beliau juga mempelajari ilmu – ilmu lain, seperti tauhid dan lain – lain. Diantara beberapa buku kajiannya antara lain : Al – Fiqhul Akbar, Al – rad Ala Al Qadariah dan Al – ‘Alim Wal – Muta’alim.
            Menurut sebagian dari para ahli sejarah bahwa beliau mempelajari ilmu fiqih dari : Ibrahim, Umar, Ali ibni Abi Talib, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas serta Hamad bin Abu Sulaiman Al – Asya’ari. Kemudian setelah Hamad meninggal dunia, Abu Hanifahlah yang menggantikannya untuk mengajar ilmu fiqih dan banyak pula murid – murid dari gurunya yang belajar kepadanya. Diantaranya Abu Yusuf Ya’kub Al – Ansari, A – Hazail, Al – Hazan bin Ziad Al – Lu’lu.
a.      Kedudukan Madzab Abu Hanifah
Abu hanifah adalah seorang rois pada golongan ahli – ahli berfikir. Berdasarkan kepada pendapat ini, banyak orang diantaranya yang melontarkan tuduhan dan merendahkan bahwa Beliau banyak menggunakan akal dan itihad dengan meninggalkan hadits – hadist Nabi. Tuduhan itu mendatangkan beberapa kesulitan kepada beliau. Oleh karena itu beliau bekerja keras untuk menyanggah dan menjawab tuduhan – tuduhan tersebut.
Abu Hanifah banyak menggunakan hadits – hadits mutawatir, masyhur dan hadits – hadits Ahad. Beliau menolak atau tidak menerima sebagian hadits, bukan berarti beliau tidak mempercayai Rosulullah, akan tetapi tujuannya adalah untuk menyelidiki kebenaran rawi – rawi hadits tersebut. Dimana beliau menggunakan hadits sesuai dengan keadaan masyarakat. Namun beliau selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah – masalah yang ada demi kepentingan masyarakat.
b.      Latar belakang
Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antaralatar belakangnya adalah:
a.       Karena beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak terlalu yakin atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memlih untuk tidak menggunakannnya. Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak formula seperti mengqiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil nash syar’i.
b.      Kurang tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.
c.       Nasihat – nasihat Abu Hanifah
Diantara larangan – larangan Abu Haifah kepada muridnya tentang adab seperti di bawah ini :
1.      Jangan berdiri di tengah – tengah jalan raya, duduklah dimasjid.
2.      Jangan duduk – duduk di gudang perniagaan.
3.      Jangan makan dan minum di pasar begitu juga di masjid.
4.      Jangan minum air dari para penjaja – penjaja air.
5.      Jangan pakai pakaian sutera karena membawa kepada keselamatan.
Nasihat Abu Hanifah terhadap pergaulan antara suami dan istri seperti berikut :
1.      Jangan bercakap – cakap dengan istrinya lebih dari biasa semasa di atas katil melainkan masa – masa yang biasa saja.
2.      Jangan bersenda gurau (bercumbu) berlebih – lebihan dan hendaklah sekedarnya saja.
3.      Jangan berbicara dengan perempuan – perempuan lain di depa istri karena membawa kepada fitnah.
4.      Jangan campuri dua istri di sebuah rumah.
5.      Jangan kawin sebelum engkau berkuasa memberi nafkah kepada anak istri. Belajar dahulu sebelum kawin sesudah itu kumpulkan harta yang halal dan barulah kawin.
Ada juga nasihat – nasihat yang lain ialah :
1.      Jagalah rahasia – rahasia tetangga dan jangan menyebarkan rahasia – rahasia orang banyak dan jik sekiranya mereka meminta pendapat, sampaikanlah kepada mereka.
2.      Jika ada beberapa orang yang datang belajar, terangkanlah kepada mereka tentang ilmu, agar dipelajari dengan baik supaya mereka senang dan paham.
3.      Hendaklah berlemah lembut dan supel dengan penuntut ilmu dan bercakap – cakaplah dengan mereka karena kasih sayang membawa anak didik gemar kepada pelajaran dan kadangkala adakanlah jamuan makanan, tunaikan permintaan – permintaan mereka, hendaklah mengetahui kemampuan mereka dan lupakan kekuranga – kekurangannya.
4.      Jangan memberi beban kepada seseorang dengan tanggung jawab yang berat. Berilah mereka apa yang mereka sukai danhendaklah dengan niat ikhlas dan berbicaralah yang benar dan jangan sombong.
5.      Janganlah menipu sekalipun kamu ditipu.jagalah amanah sekalipun engkau di khianati.
Abu Hanifah seorang yang jujur dan tegas dengan kebenaran. Oleh karena sikapnya yang tegas beliau telah menolak dilantik menjadi kadli yang mana menyebabkan beliau dipenjara. Sikapnya yang demikian menjadi bukti ketegasan pendiriannya. Beliau juga orang yang benar – benar mengamalkan apa yang beliau ketahui. Ia menyuruh dari pada melakukan maksiat gunakanlah akal pikiran dan iman dan beliau pernah berkata , “ Aku liat maksiat itu hina lantaran itu aku meninggalkannya karena menjaga muruah, akhirnya menjadi perkara agama “. Beliau adalah sesosok orang yang gemar beribadah kepada Allah, dan beliau adalah seorang yang berilmu pengetahuan tinggi serta fakih (pakar) dalam bidang ilmu fiqih.
d.      Abu Hanifah Meninggal Dunia
Abu Hanifah meninggal dunia pada tahun 150 H, sebelum Abu Hannifah menghembuskan nafas terakhir, Beliau berpesan suapaya mayatnya dikebumikan di tanah perkuburan yang baik yang dimaksud dengan tanah yang baik, yaitu tidak dirampas oleh seorang raja atau ketua negeri. Sungguh banyak dari orang awam yang mengiringi jenazah Beliau, diperkirakan kurang lebih sekitar lima puluh ribu orang yang mengiringi jenazahnya. Jenazah Beliau dikebumikan di makam perkuburan Al – Khaizaran di timur kota Bagdad. 
 Madzab Malik bin Anas
Imam Malik adalah seorang imam dari kota Madinah dan imam bagi penduduk Hijaz. Ia salah seorang ahli fiqh yang terakhir bagi kota Madinah dan juga yang terakhir bagi fuqaha Madinah. Beliau lahir pada tahun 93 Hijriyah, Ayah Beliau bukan seorang yang biasa menuntut ilmu walaupun demikian beliau pernah mempelajari sedikit banyak hadits – hadits Rosulullah, Beliau bekerja sebagai pembuat panah sebagai sumber nafkah bagi hidupnya. Ibu Beliau bernama Al – Ghalit binti Syarik bin Abdul Rahman bin Syarik Al – Azdiyyah dan ada yang mengatakan namanya Talhah. Namun kakek dan paman – pamannya terkenal sebagai ahli ilmu. Dengan demikian, tidak heran jika beliau cenderung gemar mempelajari hadits – hadits Rosulullah.
Madinah adalah tempat terbitnya berbagai fatwa yang diamalkan oleh para sahabat dan  tabi’in hingga datanglah Malik menerima warisan besar lagi mulia, yaitu ilmu hadits dan fatwa. Beliau adalah seorang tahfidz Al- Qur’an dan hadits – hadits Rosulullah. Ingatannya sangat kuat dalam mempelajari ilmu. Beliau adalah seorang yang  sangat aktif dalam mencari ilmu. Beliau sering mengadakan pertemuan dengan para ahli hadits dan ulama. Imam Malik hidup dalam kemiskinan dalam beberapa tahun. Sebagai buktinya bahwa anak perempuannya selalu menangis kelaparan. Sampai akhirnya beliau menjadi seorang yang bahagia dan kaya.  Dalam hidupnya Imam Malik mengalami dua corak pemerintahan, Umaiyyah dan Abbasiyyah dimana terjadi perselisihan di antara dua pemerintahan tersebut. Di masa ini pengaruh ilmu pengetahuan, dimana bermacam – macam pula perubahan yang terjadi dalam kehidupan, dari sisi sinilah permulaan ilmu hadist, fiqih dan masalah hukum – hukum islam.
Imam Malik menulis kitab dengan bermacam – macam bidang ilmu agama seperti ilmu hadits dan pendapat – pendapat penduduk Madinah. Beliau berusaha dengan tabah untuk mengarang kitab Al – Muwatta  selama 40 tahun. Harus kita ketahui bahwa kitab Al – Muwatta bukanlah sebuah hadits sebagaimana yang diketahui, tetapi ia adalah sebuah kitab fiqih. Cita – cita Imam Malik adalah untuk menerangkan kata sepakat orang Madinah atau dengan kata lain ilmu fiqih Madinah. Kitab ini dijadikan Beliau sebagai penjelasan terhadap hadits dari segi ilmiah dan beliau menggunakan pendapatnya jika ia tidak menemui hadits – hadits. Imam Malik mengambil pendapat – pendapat yang telah disepakati dan beliau mengeritik rawi – rawi dengan halus dan mendalam, beliau pernah berkata : ilmu tidak harus diambil atau dipelajari dari empat orang dan harus dipelajari dari mereka yang lain dari itu.
a.      Imam Malik dan Hadits – hadits Rasulullah SAW
Imam Malik adalah orang yang sangat alim dan sangat menghormati hadits – hadits Rosulullah. Untuk meningkat ke derajat yang demikian ini adalah satu perkara yang amat sukar. Beliau sampai pada tingkat yang seperti ini adalah sebagi hasil dari usahanya yang tidak mengenal jemu, dan beliau sangat berhati – hati dalam pengambilan hadits. Sebgai bukti ketekunannya dan keteguhannya ialah perkataannya : “ Aku menulis seratus ribu hadist dengan tanganku sndiri dan juga perkataannya bahwa ilmu hadits ialah agama, oleh karena itu hendaklah kamu berhati – hati dan pikirkanlah terlebih dahulu tentang pembawa ( Rawi ) hadits tersebut”. Imam Malik dianggap sebagai seorang pemimpin ( Imam ) dalam ilmu hadits. Sandaran – sandaran ( Sanad ) yang dibawa oleh beliau termasuk salah satu dari sanad yang terbaik dan benar. Banyak orang yang datang mempelajari ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Apabila Beliau ditanyai tentang ilmu fiqih, beliau menjawab dan memberi fatwa – fatwa sesuai dengan Hadits Rosulullah.
Beliau juga termasuk seorang guru besar, beliau mulai mengajar ketika berumur tujuh belas tahun. Sebelum Beliau pergi mengajar terlebih dahulu beliau mendalami bidang tersebut kadangkala beliau tidak tidur. Setelah pikiran beliau matang dan memahami bidang tersebut barulah beliau pergi mengajar. Beliau juga mempelajari cara hidup manusia yang beraneka ragam, dari cara tersebut beliau dapat membuat kesimpula hukum yang berkaitan dengan cara hidup mereka masng – masing. Hukum fiqih yang diberikan oleh Imam Malik bersumber dari Al – Qur’an dan Hadits, dimana Hadits adalah alat bantu beliau dalam memahami Al – Qur’an. Imam Malik sangat cermat dalam memberikan penjelasan tentang hukum. Beliau selalu berfikir panjang sebelum memberi fatwa atau hukum. Dalam hal ini beliau juga selalu mengingatkan agar tidak selalu menerima pendapatnya, namun semua perkara dapat diselesaikan dengan ijma ( kespakatan bersama ). Dalam memberikan fatwa atau hukum janganlah tegesa  - gesa dalam menjawab, demi mencari faedah dirinya untuk mendapatkan sanjungan, namun dengan berfikir kita akan mendapatkan hasil yang lebih manfaat.
Mazhab Imam Malik ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah. Imam Malik membangun madzhabnya dengan 14 dasar : Al-Quran, As-Sunnah , Ijma’, Qiyas, amal ahlul madinah , perkataan sahabat, istihsan, saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar’u man qablana .
Mazhab Imam Malik  adalah kebalikan dari mazhab Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki justru ‘kebanjiran’ sumber-sumber syariah. Sebab mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri, di mana penduduknya adalah anak keturunan para sahabat. Imam Malik sangat meyakini bahwa praktek ibadah yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan dasar hukum, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.
a.      Nasihat – nasihat Imam Malik :
a.       Bahwa ilmu ( ilmu agama ) adalah agama, oleh karena itu hendaklah kamu perhatikan dari maan kamu pelajari.
b.      Ilmu itu cahaya  (nur) ia tidak akan lembut ( jinak ) melainkan bagi orangyang bertakwa dan khusyu.
c.       Sebaik – baik perkara ialah yang terang dan nyata serta jika engkau ragu antara keduanya maka ambillah yang dapat dipertanggungkan.
d.      Apabila seorang itu memuji dirinya maka hilanglah kebijaksanaannya.
e.       Apabila engkau di tanya tentang sesuatu perkara maka hendaklah kamu teliti dan selidiki dan timbangkan antara pendapatmu dengan pendapat orang lain karena mempertimbangkan menghilangkan kekurangan pikiran sebagaimana api menghilangkan kotoran emas.
b.      Pendapat – pendapat orang sezamannya terhadap Imam Malik :
a.       Imam Syafi’I berkata : Apabila datang Al – Atsar maka Imam Malik sebagai bintang.
b.      Abu Ayyub bin Suwaid berkata : Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih benar ucapannya selain dari Imam Malik.
c.       Ibnu Mahdi berkata : Tidak ada di atas dunia ini orang yang lebih selamat tentang hadits – hadits Rosulullah selain dari Imam Malik.
d.      Muhammad bin Abdul Hakim berkata : Apabila Imam Malik mengeluarkan pendapatnya dan orang – orang lain tidak. Maka pendapatnya menjadi hujjah.
d.      Imam Malik dan Pemerintah
Imam Malik adalah seorang yang sangat habat, lantaran itu beliau ditakuti atau dikagumi oleh murid – muridnya dan juga orang – orang yang mengenalnya. Beliau juga ditakuti oleh pemerintah dan khalifah. Kehebatan Imam Malik datang dari kekuatan jiwa dan kemsyhurannya diikuti pula oleh pribadinya yang tinggi dan mulia. Imam Malik sering memberikan nasihat kepada khalifah Al – Mahdi : “ Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah SWT, dan hendaklah engkau berlemah – lembut dengan penduduk negeri Rosulullah SAW dan tetangga – tetangganya karena Rosulullah SAW bersabda : Madinah tempatku berpindah dan di sanalah kuburku dan dengan menghormati tempatku bangkit, dan penduduk jiran ku oleh ituwajib atas umatku menjagaku, dan barang siapa yang menjaga mereka, aku adalah sebagai saksi dan pemberi syafaat baginya di hari kiamat.”
Imam Malik menyeru supaya pemerintah memperhatikan terhadap orang – orang yang di bawahnya karena mereka bertanggungjawab  terhadap orang yang ada di bawah kekuasaannya. Beliau berseru untuk berlaku adil dan menjaga ekonomi dalam perbelanjaan sehingga harta yang dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat dan umat.
e.       Imam Malik meninggal dunia
Imam Malik mengalami sakit selama dua puluh hari. Pada malam beliau menghembskan nafas terakhir. Imam Malik meninggal dunia di Madinah, pada tanggal 14 Robi’ul awwal tahun 179 H.
1.      4 Madzab Muhammad Idris Asy – Syafi’i
Imam Syafi’i ialah imam yag ketiga menurut susunan tarikh kelahiran. Beliau adalah pendukung terhadap hadits dan pembaru dalam agama ( mujtahid ) dalam abad kedua hijriah. Beliau dilahirkan di kota Gazzah dalam Palestina pada tahun 150 H. Ayah belliau meninggal dunia ketika beliau masih kecil, dan pada saat itu beliau menjadi anak yatim pada umur 10 tahun. Ibunya bernama Fatimah binti Abdullah Al – Azdiyyah. Semasa muda beliau hidup dalam kemiskinan, sehingga beliau terpaksa mengumpulkan batu – batu yang baik, belulang, pelepah, tamar dan tulang unta untuk ditulis di atasnya. Kadangkala beliau pergi ke tempat orang banyak untuk meminta kertas dan menulis pelajaran.
Imam Syafi’i seorang yang mengetahui tentang ilmu kedokteran dan seorang yang mahir memanah serta cakap menunggang kuda. Beliau seorang yang cakap pemikirannya kuat ingatannya serta luas wawasan dan pemikirannya. Beliau juga seorang yang sangat fasih lidahnya, luas penerangannya serta kuat imannya. Imam Syafi’i adalah seorang yang mengikuti kebenaran dimaan saja ia berada, beliau tidak segan atau malu kembali kepada kebenaran apabila beliau ditentang. Apabila memberikan wawasan disampaikannya dengan terang dan apabila beliau menemui dalil atau hujjah yang lain atau pandangannya adalah tidak baik, maka beliau mempercayai bahwa lebih benar dari yang pertama, terus beliau menolak pendapat yang pertama dan diberitahukan pendapat yang kedua. Oleh karena itu kita dapati dalam fiqih Imam Syafi;i terdapat dua pendapat “ pendapat lama “ dan “ pendapat baru “.
Di antara ketegasan Imam Syafi’i ialah berpegang dengan kebenaran dan kejujuranya dalam bidang ilmu pengetahuan beliau tidak sekali – kali terpengaruh dengan persahabatan atau keluarga bahkan beliau tetap patuh kepada kebenaran, beliau mendahulukan keridloan Allah dari keridloan orang.
a.      Nasihat – nasihat Imam Syafi’i
Imam Syafi’i adalah seorang yang alim dalam bidang ilmu fiqih, beliau terkenal juga sebagai sarjana dalam sastra bahasa Arab dan ilmu – ilmu yang lain. Diantara kata – kata dan nasihat Imam Syafi’i adalah sebagai berikut :
1.      Belajarlah ilmu fiqih sebelum kamu menjadi pemimpin jika kamu menjadi pemimpin maka tidak ada jalan untuk belajar.
2.      Menuntut ilmu lebih baik daripada sholat sunnah.
3.      Siapa senang kepada dunia maka hendaklah mencari ilmu, dan barang siapa berkehenak kepada akhirat, juga hendaklah mencari ilmu.
4.      Pertolongan adalah penyucian keajaiban.
5.      Barang siapa yang tama’/loba kepada dunia dia akan menjadi hamba pada ahli dunia.
6.      Kemiskinan ulama ialah kemiskinan ikhtiar, dan jika kemiskinaan orang jahil ialah kemiskinan kesusahan.
7.      Barang siapa yang mendengar dengan telinga ia seorang yang pencerita dan siapa yang mendenngar hatinya ia adalah orang yang sadar dan siapa yang memberi nasihat dengan perbuatan ia adalah seorang yang penunjuk.
b.      Ilmu Fiqih Imam Syafi’i
Ilmu fiqih yang dibawa oleh Imam syafi’i merupakan suatu zaman perkembangan fiqih dalam sejarah perundangan Islam, oleh karena itu ia mengumpulkan atau menyatukan ilmu fiqih ahli – ahli akal dan pikir dengan ilmu fiqih ahli – ahli akal dan hadits ilmu fiqih Imam Syafi’i merupakan ikatan sunnah dengan kias dan pemikir dengan beberapa pertimbangan, sebagaimana juga adalah ilmu fiqih yang menetapkan cara – cara atau peraturan untuk memahami Al – Qur’an dan hadits, juga dia menetapkan kaidah – kaidah pengeluaran hukum dan kesimpulannya, oleh karena itu beliau di anggap sebagai penulis ilmu ushul fiqih. Beliau mulai menyusun madzab fiqihnya setelah beliau mempelajari ilmu fiqih di Madinah dan ilmu fiqih orang Irak. Beliau membuat perbandingan dari keduanya.
Pada waktu zaman Imam Syafi’i terbagi menjadi dua golongan : golongan ahli hadits dan golongan ahli pikir. Ahli hadits adalah mereka yang senang menghafal hadits – hadits Rosulullah SAW. Kecuali mereka yang mampu memikirkan dan berbincang – bincang. Apabila mereka ditanya atau diperbincangkan oleh para ahli pikir, mereka kalah dan tercengang. Adapun orang ahli pikir mereka adalah ahli bagi pikiran dan perbincangan, kecuali mereka itu lemah dari mengingati hadits – hadits dan atsar.
Dari sini peran beliau sangat di perlukan, beliau adalah seorang yang mengetahui banyak tentang hadits Rosulullah SAW, mulai dari adab perbincangan dan pembahasan. Beliau menolong dan membantu mempertahankan hadits Rosulullah disaat orang ahli pikir mulai menyerang. Namun beliau sangat tegas dalam menyampaikan hadits tersebut dan selalu menjawab dengan sangat memuaskan. Maka lumpuhlah para ahli pikir saat itu.
c.       Imam Syafi’i dan Pelajaran Bahasa Arab
            Bahasa ibunda beliau adalah bahasa Arab. Beliau adalah keturunan bangsa Arab yang bahasa percakapannya sangat baik. Beliau tidak pernah salah dalam penggunaan bahasa Arab. Banyak dari manusia yang mencoba mencari kekurangan bahasa yang digunakan oleh Imam Syafi’i tetapi mereka tidak menemukannya. Ibnu Hisyam berkata : “ kami telah mengikuti majlis – majlis pelajaran Imam Syafi’i tidak seklaipun kami dapati kesalahan bahasa yang digunakan olehnya dari seginahwu atau yng lain. Jika dibandingkan dengan orang – orang lain tentulah bahsa beliau lebih tinggi dan lebih baik dari mereka itu.
Dinatara kata – kata beliau dalam bidang ilmu bahasa bahwa beliau berpendapat, mempelajarinya adalah wajib atas tiap – tiap orang islam baik ia orag Arab maupun bukan Arab. Beliau bukan hal ini dalam kitabnya “ Ar – Risalah “ katanya bahwa bahasa Arab wajib didahulukan dari bahasa lain karena ia adalah bahasa Al – Qur’an dan bahasa Rosulullah SAWcdan tidak harus bahasa orang – orang islam mengikuti bahasa lain, bahkan hendaknya bahasa – bahasa lain mengikuti bahasa Al – Qur’an. Beliau berkata bahwa : “ Wajib atas tiap – tiap orang islam mempelajari bahasa Arab sekadar semampunya.”
d.      Kata pujian orang terdahulu kepada Imam Syafi’i
Banyak kita dapati kata – kata pengakuan dan pujian dari orang – orang terdahulu (As Salaf) yang ditujukan kepada beliau, sebagai berikut :
a.      Abu Bakar Al – Muhaidi berkata : beliau adalah pemimpin bagi ulama – ulama fiqih.
b.      Ahmad bin Hambal bekata : beliau filosof dalam empat perkara : bahasa, tempat tumpuan manusia, ilmu ma’ani, ilmu fiqih.
c.       Sufyan Ath – Tsauri berkata : beliau adalah semulia – mulianya orang di waktu itu.
d.      Yahya bin Said Al – Kattani berkata : aku tidak pernah menjumpai orang yang lebih bijak dan alim dalam ilmu fiqih lebih darinya.
e.       Meninggalnya Imam Syafi’i
Beliau banyak mengidap penyakit sewaktu hidupnya. Antaranya ialah penyakit wasir yang mana menyebabkan keluarnya darah pada tiap – tiap waktu. Imam Syafi’i meninggal dunia di Mesir pada malam kamis sesudah magrib, yaitu malam akhir di bulan Rajab tahun 204 H. Umurnya waktu itu ialah lima puluh empat tahun. Beliau wafat di tempat kediaman Abdullah bin Abdul Hakam dan kepadanya beliau meninggalkan wasiat, jenazah beliau dikebumikan keesokan harinya.
1.5  Madzab Ahmad bin Muhammad bin Hambal
Ahmad bin Muhammad bin Hambal adalah Imam keempat dari para fuqaha islam. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat – sifatyang luhur dan tinggi. Beliau imam bagi umatIslam di seluruh dunia, juga Imam bagi Darul Salam, mufti bagi negeri Irak dan seorang yang alim tentang hadits – hadits Rosulullah SAW. Beliau dilahirkan di kota Bagdad, pada bulan Rabi’ul awwal tahu 164 Hijriah, yaittu setelah ibunya berpindah dari kota Murwa tempat tinggal ayahnya. Ayahnya adalah seorang pejuang yang handal sementara datuknya adalah seorang gubernur di wilayah Sarkhas dalam jajahan Kharasan, di pemerintahan Umawiyyin. Beliau adalah seorang yatim karena ayahnya meninggal dunia sewaktu beliau masih kecil. Ibunya bernama Safiyyah binti Maimunah binti abdul Malik Asy – Syaibani dari suku Amir.
Beliau hidup sebagai seorang yang rendah dan miskin, karena ayahnya tidak meninggalkan warisan padanya hanya rumah yang kecil dan sedikit tanah yang sangat kecil penghasilannya. Beliau menempuh kehidupan yang susah beberapa lama sehingga beliau terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. As – Sayyid Ridha berpendapat bahwa Ahmad bin Hambal adalah seorang pembaharu (mujaddid) agama dalam abad ke tiga Hijriah. Beliau hidup pada zaman pemerintahan Abbasiyah, dimana golongan kebangsaan Perssi mengatasi kelompok kebangsaan Arab. Pada zaman ini bidang ilmu fiqih berkembang lebih luas dan matang. Beliau adalah seorang yang giat mempelajari hadits Rosulullah pada waktu itu dan beliau berpegang teguh dengannya.
Beliau gemar menghafal Al – Qur’an dan mempelajari bahasanya. Beliau belajar menulis dan mengarang di Diwan, umurnya di waktu itu ialah empat belas tahun. Beliau hidup sebagai seorang yang cinta kepada menuntut ilmu dan bekerja keras untuknya. Disamping beliau mempelajari dari Husyaim beliau mempelajari juga dari Umair bin Abdullaj, Abdur Rahman bin Mahdi dan Abi Bakar bin Iyasy. Imam Syafi’i adalah salah satu guru beliau. Beliau menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Beliau tetap dengan mempelajari hadits sehingga beliau menjadi seorang Imam.
Setelah beliau sekian banyak mempelajari ilmu dari guru – gurunya beliau pun mulai engajar di masjid Al – Bagdad, umurnya pada waktu itu 40 tahun. Majlis pelajaran beliau terbagi menjadi dua bagian, pelajaran ‘am dan pelajaran khas. Pelajaran ‘ama diadakan sesuda Ashar di masjid. Sementara pelajaran khas diadakan dirumahnya.
a.      Sumber hukum fiqih Ibnu Hambal
Ibnu Hambal adalah seorang yang sangat mempedulikan tentang kebenaran ilmu yang dipelajarinya. Oleh sebab itulahbeliau benci kepada menambah – nambah atau mengubah  riwayat – riwayat hadits. Beliau menjadikan Al – Qur’an dan As – Sunah sebagai sumber pertama dalam ilmu fiqihnya.beliau tidak menerima adanya perselisihan antara Al – Qur’an dan As – Sunah. Belaiu mengkaji serta menghalusi hadits – hadits yang ada kaitannya dengan halal dan haram serta beliau halusi juga tentang sanadnya (tempat ambilan).
Mazdab beliau sangat mempedulikan tentang menyuci najis – najis, beliau berpendapat najis anjing hendaklah dicuci sebanyak delapan kali, manakala najis yang lain pula dicuci sebanyak tujuh kali. Madzab ini mewajibkan berkumur juga memasukkan air kedalam lubang hidung dan dikeluarkan dikala mengambil shalat (wudhu) sedangkan perkara ini sunnah saja di sisi madzab – madzab yang lain.
Penghalusan dan penyempitan madzab beliau dalam perkara ini, beliau adalah seorang wira’i yang memberatkan atas dirinya sendiri. Beliau mewajibka perkara yang tidak diwajibkan atas orang lain, dan beliau menjauhkan dari perkara syubhat dengan pengawasan dan penjagaan. Beliau adalah seorang yang sangat bersih, suci, zuhud dan menjaga diri dari perkara yang haram.
b.      Pandangan orang terhadap Ibnu Hambal
Pengakuan juga pujian dari para ulama dan juga fuqaha terhadap beliau. Sebagaian dari pandangan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Ibrahim Al – Harbi : Ibnu Hambal adalah seorang yang dihimpunkan Allah dengan ilmu – ilmu orang terdahulu.
b.      An Nawawi berkata : Beliau adalah seorang imam yang bijaksana di samping kebesaran, ketuaan, kewiraan, kezuhudan, ingatan, banyak ilmu dan kekuasaannya.
c.       Abu Hatim berkata : jika kamu dapati seorang yang mengasihi Ahmad bin Hambal maka ketahuilah orang itu adalah dari ahli sunnah.
d.      Abu Tsur berkata :  kiranya adanya orang yang mengatakan bahwa Ahmad bin Hambal salah seorang dari ahli surga ia tidak melapui batas dalam hal ini.
c.       Nasihat – nasihat beliau :
1.      Dunia adalah tempat beramal sementara akhirat adalah tempat menerima balasan, barang siapa tidak bekerja di sisni ia akan menyesal di sana.
2.      Diam orang berilmu adalah insaf dan takwa, diam orang jahil karena tidak tahu. Kapankah akan datang kebenaran ?
3.      Kemenangan adalah mereka yang menang di hari esok (kiamat) karena disana seorang tidak akan mendapat pengikut atau teman.
4.      Jika kita mencari harta ia tidak akan datang kepada kita, yang datang kepada kita ialah perkara yang kita tinggalkannya.
5.      Jangan kamu mengambil ilmu dari orang yang mempelajarinya dengan tujuan keduniaan.
d.      Meninggalnya Ibnu Hambal
       Ibnu Hambal mengalami sakit yang membawa kepada kematian. Ketika beliau dalam keadaan sakit tidak ada perkara yang membuat hatinya selalu berfikir. Beliau terkena penyakit demam panas pada hari pertama di bulan Robi’ul Awwal tahun 240 H. Sehingga beliau tidak mampu untuk berjalan di rumahnya melainkan dengan pertolongan. Beliau meninggal dunia pada hari Jum’at tanggal 12 Robi’ul Awwal tahun 241 H. Jenazahnya dikebumikan sesudah sholat juma’at, dan diirimgi oleh puluhan ribu rakyat jelata. Beliau dikebumikan di bagdad.
2.5 Perbandingan Fiqih dari keempat madzab
          Secara etimologis fiqhiyah “ikhtilaf” merupakan yang di ambil dari bahasa Arab yang berarti : berselisih, tidak sepaham, sedangkan secara termologis fiqhiyah, ikhtilaf adalah perselisihan paham atau pendapat di kalangan para ulama fiqh sebagai hasil ijtihad untuk mendapatkan dan menetapkan suatu ketentuan hukum tertentu. Jalan pikiran Imam Mujtahid inilah yang perlu kita lihat dan telaah dikemudian hari dengan membandingkan fiqh para madzab itu akan lebih baik jika kita mengetahui latar belakangnya, dalam hal ini bisa jadi karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau masa dan sumber hukum yang dipergunakan. Berikut adalah fiqh dari keempat madzab :
a.      Hal – hal yang membatalkan wudhu’
      Wudhu adalah salah satu syarat yang harus dilakukan sebelum melakukan sholat atau untuk mensucikan diri dari hadats. Namun disini terjadi perbedaan pendapat diantara keempat Imam  tentang hal – hal yang membatalkan wudhu pada waktu tidur tersebut diantaranya :
1.      Hanfiyah berpendapat bahwa tidur itu tidak membatalkan wudhu’, tetapi cara orang itu tidur yang perlu di perhatikan. Berikut adalah tidur yang membatalkan wudhu’ :
a)      Ia tidur dengan berbaring miring
b)      Ia tidur terlentang di atas punggungnya
c)      Ia tidur di atas salah satu pangkal pahanya
Hanafiyah mengiyaskan bahwa tidur seperti di atas itu batal dikarenakan persendiannya lunak, tidak dapat mengontrol apakah dia buang angin atau tidak. Mereka mengatakan bahwa wudhu seseorang tidak akan batal jika tidur dengan duduk tegak tidak bergeser dari tempat duduknya, sejak dia tidur sampai terjaga. Mereka yakin bahwa persendiannya tidak akan bergeser dan tidak buang angin.
2.      Malikiyah berpendapat, bahwa tidur itu dapat membatalkan wudhu’, apabila seseorang tidur nyenyak baik sebentar maupun lama, baik itu dalam keadaan duduk, berbaring atau sujud. Wudhu’ tidak batal apabila seseorang tidur tidak nyenyak. Tidur yang nyenyak itu, apabila seseorang tidak lagi mendengar suara disekelilingnya. Namun meskipun tidur tidak nyenyak dalam wwaktu lama, disunnahkan untuk wudhu’.
3.      Syafi’iyah berpendapat bahwa wudhu seseorag menjadi batal apabila orang itu tidak mantap duduk di tempatnya. Apabila duduknya mantap, tidak bergeser dan tidak renggang, maka wudhu’nya tidak batal. Menurutnya wudhu’ seseorang tidak batal apabila hanya sekedar mengantuk dan masih dapat mendengar suara dsekelilingnya meskipun tidak memahami sempurna.
4.      Hanabilah berpendapat bahwa wudhu’ seseorang tetap batal, apabila tidur dalam keadaan bagaimana pun .
b.      Hukum membaca fatihah dalam sholat
1.      Imam Syafi’i dan Imam Hambali berpendapat makmum wajib membaca Fatihah di belakang imam. Ubaadah berkata : “Sesungguhnya Rosulullah bersabda :
         “Tidak (sah shalat seseorang yang tidak membaca Al – Fatihah di belakang imam.( HR. Baihaqy )
2.      Imam Malik berpendapat bahwa makmum wajib membaca fatihah pada sholat sir dan tidak wajib pada sholat jahar.
3.      Imam Hanafi menyatakan, bahwa makmum tidak perlu membaca Fatihah ( surat atau ayat ), secara mutlak. Beliau berpegang teguh pada ayat 204 Al – A’raaf.
Yang artinya :
“orang yang ada baginya imam, maka bacaan imam sebagai bacaannya ( HR. Ibnu Abi Shaibah Ahmad dan Dara Quthny )

-->
DAFTAR PUSTAKA

Asy – Syak’ah. Dr. Mustofah, Islam Tidak Bermadzab. Gema Insani. Jakarta : 1994
Abdullah, Muhammad Husain. Studi Dasar – Dasar pemikiran Islam. Daar al – Bayariq. 1990.
Alwi, H. M. Basori. Ahlussunnah – Syiaah dan Bermadzab. Pesantren Ilmu Al – Qur’an. Singosari Malang :1996.
Hasan, M. Ali. Perbandingan Madzab Fiqh. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta : 1997.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.